Krisis Eropa Menggila, Industri Jerman Terancam Bubar

  • Bagikan

Foto: Ilustrasi Ekonomi Jerman. (AP/Michael Probst)

Jakarta FANEWSID — Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck memperingatkan bahwa negaranya saat ini sedang menuju krisis gas bila pasokan yang diberikan Rusia serendah sekarang. Hal ini disampaikannya kepada media Jerman, Der Spiegel, Jumat (24/6/2022).

Habeck mengatakan hal ini akan menimbulkan kelumpuhan besar dalam industri di negaranya. Selain itu, angka kemiskinan di Jerman bisa meroket bila pengurangan ini tetap berlaku.

“Perusahaan harus menghentikan produksi, memberhentikan pekerja mereka, rantai pasokan akan runtuh, orang akan berhutang untuk membayar tagihan pemanas mereka, bahwa orang akan menjadi lebih miskin,” kata Habeck pada media itu yang dikutip kembali oleh Reuters.

Sejauh ini, Jerman menggantungkan hampir 40% pasokan gasnya pada Rusia. Gas itu dialiri melalui pipa Nord Stream I

Saat ini, Rusia menyebut turbin yang digunakan untuk memompa gas di pipa itu sedang dalam perbaikan di Kanada. Hal ini memicu pemotongan pasokan tak hanya ke Jerman namun juga ke seluruh Eropa

Meski begitu, Habeck menuduh aksi pemotongan ini merupakan manuver yang disengaja oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Diketahui, Jerman menentang aksi Moskow dalam menyerbu Ukraina dan bahkan memberikan bantuan persenjataan pada Kyiv.

“Ini adalah tempat berkembang biak terbaik bagi populisme, yang dimaksudkan untuk melemahkan demokrasi liberal kita dari dalam,” tambahnya seraya menambahkan bahwa rencana Putin tidak boleh dibiarkan berhasil.

Dalam mitigasi krisis, Jerman memiliki tiga fase darurat energi. Fase pertama sudah diumumkan 30 Maret lalu, sebulan setelah Rusia menyerang Ukraina.

Untuk memenuhi kebutuhan energinya, Jerman juga telah menghidupkan kembali PLTU batu bara. Meski di 2030 negara itu berencana menghapus sumber energi paling intensif karbon itu.

BACA JUGA :   Sharing Packaging dan Distribusi untuk UMKM Aceh.

Sementara itu, wilayah Eropa juga tengah getol mencari sumber lain berupa LNG. Sejumlah negara dibidik termasuk Amerika Serikat (AS) dan Qatar.”

 

FANEWSID

 

Sumber: CNBC Indonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *