Jelang Munas PBSI: Jangan Ada Tangan Jahil Mengotori Munas

  • Bagikan

Penyerahan berkas calon Ketum PP PBSI Ari Wibowo oleh Suwastono kepada Ketua Penjaringan Edi Sukarno disaksikan Ketua Pengprov PBSI NTB Junaidin Yaman. (Foto: Istimewa).

FANEWS.ID — Ketua Umum Pengprov PBSI Banten Ari Wibowo secara resmi telah mendaftarkan diri untuk maju sebagai calon Ketua Umum PP PBSI pada Munas yang akan berlangsung 5 – 6 November mendatang.

Pendaftaran diserahkan oleh Wakil Sekum Pengprov PBSI Banten H Suwastono SE dan Ketua Umum Pengprov PBSI Nusa Tenggara Barat H Junaidin Yaman. Dengan demikian sudah ada dua calon yang maju pada Munas nanti. Satu calon lainnya adalah Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna yang disebut-sebut didukung oleh 29 suara Pengprov. Sementara Ari Wibowo mendaftar dengan syarat minimal 10 dukungan Pengprov.

Bila dijumlah klaim suara pendukung, maka total suara 39 sementara suara sah menurut Ketua Penjaringan Munas PBSI Edi Sukarno hanya 32 dari 34 Pengprov. Pasalnya, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara tidak dapat menggunakan hak pilihnya lantaran kepengurusan baru usai Musprov belum terbentuk.

Melihat kondisi ini, agaknya ada indikasi suara ganda yang sengaja diciptakan untuk menggugurkan satu calon, dengan tujuan akan ada satu calon yang akan dipilih secara aklamasi pada Munas nanti. Bila ini terjadi, maka Munas PBSI yang selalu memaksakan kehendak untuk menggolkan satu calon secara aklamasi akan terjadi lagi.

Di mata Ketua Umum Pengprov Jawa Timur Oei Wijanarko Edi Mulya, SE, cara-cara seperti ini sudah harus dihilangkan. Dalam berorganisasi di bidang olahraga sportivitas harus dijunjung tinggi. Mencari ketua umum itu harus melalui seleksi yang ketat, adu program dan visi misi sehingga mereka yang dipilih harus benar-benar teruji dan mengerti bulutangkis.

BACA JUGA :   Nekat Palsukan Surat Hasil Tes PCR, Satu Calon Penumpang Batik Air Diamankan

“Saya berharap jangan ada tangan-tangan jahil yang mengotori Munas. Kalau ini terjadi terus maka Munas PBSI akan selalu penuh kekacauan,” ujar Oei Wijanarko kepada Suarakarya.id ketika dihubungi, Senin (26/10/2020).

Oei menjelaskan, dibuatnya tim penjaringan menjelang Munas dengan tujuan agar pemilihan berjalan dengan baik. Surat dukungan harus ditandatangaini Ketua saja. Tapi belakangan di Peraturan Organisasi (PO) ketentuan itu diperlebar dengan surat dukungan bisa ditandatangani Ketua dan Sekum. Atau Wakil Ketua dengan Sekum.

“Aturan-aturan inilah yang menjadi celah bagi oknum tertentu yang menginginkan satu calon untuk menggugurkan calon lain. Dengan dua tandatangan saja sudah terjadi gesekan apalagi lebih,” lanjut Oei.

Oei mengaku sejak dirinya memberikan dukungan bersama Jawa Tengah dan DI Yogyakarta kepada Ari Wibowo, secara kasat mata sudah ada teror dan penekanan terhadap Ari. Padahal Ia bersama rekan-rekan Pengprov lain menginginkan terciptanya pemilihan yang demokratis.

“Munas itu adalah pesta demokrasi olahraga. Mari berkompetisi secara baik mendukung para calon dengan program kerja yang ditawarkan. Kalau menurut peserta Munas ada satu calon yang sangat mumpuni itulah yang dipilih,” ucap Oei menambahkan.

Sementara itu Ketua Pengprov PBSI Jawa Tengah Basri Yusuf mengatakan, ada yang perlu diperbaiki dalam system pemilihan ketua umum. Untuk itu pada rapat-rapat komisi di Munas nanti pihaknya akan memberi masukan tentang perbaikan-perbaikan pada AD/ART atau peraturan organisasi.

“Saya ingin PBSI ke depan dipimpin oleh orang yang benar-benar mau mengabdi untuk bulutangkis. Bukan sekadar menjadi ketua umum tapi pekerjaannya tertangani dengan baik. Kami trio Jawa (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) menginginkan bulutangkis maju bersama dengan kepemimpinan yang bijak dan cinta bulutangkis. Dan itu kami lihat ada pada sosok Ari Wibowo,” kata Basri.

BACA JUGA :   GEMAS untuk Mencegah Covid-19 Klaster Sekolah

Dikatakan, apa yang dilakukan Ari dengan membangun sarana latihan yang begitu banyak di Provinsi Banten memberi angina segar bagi perkembangan bulutangkis di daerah tersebut. Dan ini menurut Basri perlu diapresiasi.

Hampir senada dengan Oei Wijanarko dan Basri Yusuf, Ketua Pengprov PBSI Aceh H Nahrawi Noerdin berharap ada perbaikan dalam sistem pemilihan Ketua Umum PBSI pada Munas nanti. Dimana setiap calon harus memberikan penjelasan tentang visi misinya dan apa programnya selama memimpin PBSI selama empat tahun.

“Tolong dihargai demokrasi. Cara-cara aklamasi itu tidak bagus, karena kita tidak mengerti siapa pemimpin yang akan kita pilih. Jadi adu program dalam Munas itu sangat menentukan mau dibawa kemana PBSI ke depan,” katanya.

Nahrawi menilai Ari Wibowo punya integritas dan sangat concern terhadap olahraga bulutangkis. Hal ini sudah dibuktikannya dengan membangun banyak sarana latihan. Tapi calon lain ia sendiri tidak tahu bagaimana pengetahuannya tentang bulutangkis.

“Jadi pertanyaan saya dengan memilih orang yang kita tidak ketahui sepakterjangnya di bulutangkis, tujuannya mau membangun atau menghancurkan bulutangkis. Saya melihat para pendukung calon lain itu sudah dibutakan hatinya,” lanjut Nahrawi. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *