Perempuan Pulau Weh Sulap Daun Jadi Emas Lewat Ecoprint Sabang

- Jurnalis

Kamis, 6 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para pengrajin IPEMI Sabang memperlihatkan hasil karya Ecoprint buatan tangan mereka yang terinspirasi dari keindahan alam Pulau Weh, Rabu (5/11/2025). DOK, FA  News

Para pengrajin IPEMI Sabang memperlihatkan hasil karya Ecoprint buatan tangan mereka yang terinspirasi dari keindahan alam Pulau Weh, Rabu (5/11/2025). DOK, FA News

SABANG — Di balik rindangnya pepohonan Pulau Weh, tumbuh semangat besar dari tangan-tangan perempuan Sabang yang mampu mengubah daun menjadi karya bernilai tinggi. Melalui sentuhan seni Ecoprint, mereka tidak hanya menciptakan keindahan visual, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal yang berlandaskan prinsip ramah lingkungan.

Adalah sekelompok perempuan tangguh dari Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang, yang sejak tahun 2021 menekuni seni cetak daun alami di atas kain. Di bawah kepemimpinan Erna Vivilinda, Ecoprint Sabang kini telah menjelma menjadi ikon baru oleh-oleh khas kota paling barat Indonesia itu.

“Semua berawal dari keinginan kami untuk tetap produktif di masa pandemi. Saat itu, banyak kegiatan berhenti, tapi kami ingin terus berkarya dari rumah,” kenang Erna saat ditemui di Sabang, Rabu (5/11/2025).

Baca Juga Artikel Beritanya :  Wakil Wali Kota Sabang Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran
Para pengrajin IPEMI Sabang memperlihatkan hasil karya Ecoprint mereka yang dibuat dari daun dan bunga alami, di sentra produksi Ecoprint Sabang, Rabu (5/11/2025).

Ecoprint sendiri merupakan teknik pewarnaan alami yang menggunakan daun, bunga, dan batang tanaman untuk menciptakan motif unik di atas kain tanpa bahan kimia. Prosesnya panjang dan teliti: kain harus dicuci bersih, direndam dalam larutan tawas (mordanting), disusun dengan daun pilihan, lalu dikukus hingga dua jam sebelum dikeringkan dan difiksasi selama beberapa hari agar warna lebih tajam dan tahan lama.

Produk Ecoprint Sabang hasil kreasi perempuan IPEMI tampil memikat dengan motif alami khas Pulau Weh, menjadi kebanggaan baru bagi kerajinan Aceh. Dok FA News

“Setiap hasil Ecoprint berbeda. Tak akan ada dua kain yang sama, itulah keindahan dan keistimewaannya,” ujar Erna bangga.

Kini, sebanyak 15 perempuan pengrajin aktif telah mandiri menghasilkan berbagai produk Ecoprint seperti tas, pakaian, syal, hingga gorden. Semua dibuat dari bahan alami, tanpa limbah berbahaya. Bahkan sisa daun hasil pewarnaan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik.

Baca Juga Artikel Beritanya :  Wagub Aceh Ikuti Rakor Inflasi & Kamtibmas Bersama Mendagri Tito Karnavian

Keberhasilan Ecoprint Sabang tidak lepas dari dukungan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh yang memberikan bantuan peralatan produksi modern. Melalui dukungan itu, para pengrajin kini memiliki kukusan besar berkapasitas 25 kain, kompor industri, dan peralatan pewarnaan yang mempercepat proses produksi.

“Kalau dulu kami bisa membuat 3–4 kain dalam seminggu, kini kapasitas bisa meningkat dua kali lipat. Pendapatan juga ikut naik,” tutur Erna.

Dampak ekonomi mulai terasa. Setiap tahunnya, Ecoprint Sabang mampu mencatat omzet hingga Rp100 juta, dengan permintaan datang bukan hanya dari wisatawan lokal, tetapi juga pengunjung mancanegara — terutama dari Malaysia yang terpikat oleh keaslian dan filosofi alam pada setiap motifnya.

Baca Juga Artikel Beritanya :  Bank Aceh Raih Serambi Ekraf Awards 2025

Produk Ecoprint Sabang kini mudah ditemui di sejumlah titik wisata seperti Mata Ie Resort dan Taman Wisata Putro Ijo, serta dipasarkan melalui media sosial dengan harga mulai dari Rp250 ribu hingga Rp500 ribu.

Meski masih menghadapi keterbatasan modal dan pasar, semangat para pengrajin tak pernah padam. Mereka berharap Ecoprint kelak menjadi ikon baru kerajinan khas Sabang yang tak hanya indah, tapi juga mengandung pesan pelestarian lingkungan.

“Setiap helai kain Ecoprint membawa kisah — tentang ketekunan, alam, dan perjuangan perempuan Sabang yang bangkit lewat kreativitas,” pungkas Erna penuh haru.

Dengan dedikasi dan dukungan lintas lembaga, Ecoprint Sabang kini menjadi bukti bahwa karya sederhana dari daun pun bisa menumbuhkan harapan besar bagi ekonomi kreatif perempuan Aceh.(**)

Editor : Ayah Mul

Berita Terkait

BPKS Tegaskan Kewenangan dan Prosedur Sah Impor 250 Ton Beras Thailand ke Sabang, Siap Surati Menteri Pertanian
Benteng Anoi Itam, Jejak Sejarah Perang Dunia Kedua di Ujung Barat Nusantara
PKS Sabang Peringati Hari Ayah Nasional 2025: Cinta Ayah Hadirkan Kehangatan Keluarga
Cokbang, Cokelat Asli Sabang yang Mendunia dari Dapur Sederhana
Sabang Gelar Musrenbang RPJM 2025–2029, Wujudkan Kota Pariwisata Berdaya Saing dan Berkelanjutan
Sabang Serahkan Dua Traktor untuk Kelompok Tani
Pemuda Harus Bangkit dan Berinovasi, Pesan Wali Kota Sabang di Hari Sumpah Pemuda ke-97
Wali Kota Sabang Lepas 35 Peserta MTQ XXXVII Aceh ke Pidie Jaya, Target Masuk 10 Besar
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 November 2025 - 11:13 WIB

BPKS Tegaskan Kewenangan dan Prosedur Sah Impor 250 Ton Beras Thailand ke Sabang, Siap Surati Menteri Pertanian

Rabu, 12 November 2025 - 21:47 WIB

Benteng Anoi Itam, Jejak Sejarah Perang Dunia Kedua di Ujung Barat Nusantara

Rabu, 12 November 2025 - 08:34 WIB

PKS Sabang Peringati Hari Ayah Nasional 2025: Cinta Ayah Hadirkan Kehangatan Keluarga

Kamis, 6 November 2025 - 14:09 WIB

Perempuan Pulau Weh Sulap Daun Jadi Emas Lewat Ecoprint Sabang

Kamis, 6 November 2025 - 14:01 WIB

Cokbang, Cokelat Asli Sabang yang Mendunia dari Dapur Sederhana

Berita Terbaru

Pemko banda aceh

Pagi ini, Pemko Banda Aceh Gelar Operasi Pasar LPG 3 Kg

Sabtu, 6 Des 2025 - 06:09 WIB