fanews.id – Jika Anda mencari destinasi wisata yang menawarkan pengalaman otentik, edukatif, dan ramah lingkungan, maka Gampong Nusa di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, adalah jawabannya. Terletak hanya sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, desa ini tak hanya menyuguhkan panorama alam yang indah, tapi juga kisah inspiratif tentang kebangkitan dan kreativitas masyarakat pascatsunami.

Bangkit dari Bencana, Membangun dari Sampah
Ketika gelombang tsunami melanda pada 26 Desember 2004, Gampong Nusa mengalami kerusakan parah. Namun, masyarakatnya memilih untuk bangkit, bukan meratap. Tahun 2006, sekelompok perempuan di desa ini membentuk komunitas Nusa Creation Community (NCC), mengelola sampah menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomis.
Barang-barang seperti tempat pensil, bunga, tas, hingga baju dari plastik bekas menjadi produk kreatif yang kini dipasarkan. Bahkan, kampung ini memiliki Bank Sampah, tempat anak-anak menabung sampah seperti di bank modern—hasilnya digunakan untuk membayar biaya TPA dan kegiatan sosial lainnya.
“Alhamdulillah, kami telah mengubah kesan sampah yang kotor, bau, dan sumber penyakit menjadi berkah dan sumber pemasukan tambahan,” ujar Rubama, penggerak utama gerakan ini, sekaligus penerima Penghargaan Perempuan Inspiratif Nova 2013 kategori Lingkungan.

Dari Desa Biasa Menjadi Desa Wisata Berkelas
Berbekal semangat komunitas dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, Gampong Nusa terus berkembang menjadi desa wisata berbasis masyarakat yang menyuguhkan tiga atraksi utama: wisata budaya, kuliner, dan alam.
Pemandangan sawah yang membentang, perbukitan hijau, serta aliran sungai yang jernih menjadikan Gampong Nusa layak masuk daftar destinasi wajib kunjung. Pengunjung bisa mandi di sungai bersama anak-anak, belajar menanam padi, atau sekadar menikmati suasana pedesaan yang damai.
Wisatawan Menginap di Rumah Warga
Berbeda dari penginapan konvensional, homestay di Gampong Nusa dilakukan di rumah-rumah penduduk. Inilah daya tariknya—wisatawan diajak benar-benar merasakan hidup sebagai bagian dari komunitas lokal. Interaksi positif dengan warga menjadi kenangan tak terlupakan, menjadikan setiap tamu merasa seperti keluarga.
“Jangan bayangkan hotel atau villa mewah, karena yang kami tawarkan adalah pengalaman hidup, bukan hanya tempat tidur,” tutur Rubama dengan senyum.

Kreasi, Kuliner, dan Kearifan Lokal
Selain kerajinan dari sampah, Gampong Nusa juga menyajikan berbagai atraksi budaya Aceh, seperti rapai, tari sambutan, khanduri maulid, hingga adat perkawinan. Pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas Aceh yang dimasak langsung oleh warga, bahkan belajar melalui kelas memasak lokal.
“Ekowisata yang kami jalankan bertujuan menambah pendapatan masyarakat tanpa merusak lingkungan,” tegas Rubama. “Pengelolaan yang baik adalah yang saling menguntungkan—pengunjung puas, masyarakat sejahtera.”
Harapan Jadi Rujukan Desa Lain
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Reza Fahlevi, menyebut Gampong Nusa sebagai contoh ideal desa wisata. “Masyarakatnya antusias menyiapkan sarana pendukung seperti penginapan, seni budaya, kerajinan tangan, hingga kuliner. Pemerintah akan terus mendukung pengembangan wisata berbasis masyarakat ini,” katanya.
Hal senada diungkapkan Muhajir Maop, warga Kota Banda Aceh yang kerap membawa keluarganya ke Gampong Nusa. “Ini tempat tepat untuk masyarakat urban. Kita bisa melihat langsung aktivitas warga desa yang hampir punah di kota. Bahkan saat musim tanam, anak-anak bisa ikut turun ke sawah.” [adv]
Sumber: https://dlhkabbogor.org/
Editor : Redaksi












