BMKG Bongkar Alasan Musim Kemarau Bikin Polusi Udara Makin Brutal

  • Bagikan
BMKG Bongkar Alasan Musim Kemarau Bikin Polusi Udara Makin Brutal

FANEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan alasan kemarau membuat polusi udara makin brutal, terutama di sejumlah kawasan Jabodetabek.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan kondisi musim kemarau berpengaruh pada proses peluruhan polutan di udara. Pasalnya, saat musim kemarau tidak terjadi proses peluruhan polutan di udara.

“Tidak terjadinya proses peluruhan polutan di udara ini mengakibatkan terakumulasinya polutan udara, yang berpotensi untuk menyebabkan penurunan kualitas udara,” ujar dia .

Ia mengatakan dalam kondisi turun hujan terjadi proses pencucian atmosfer (washout). Sehingga, gas dan partikel yang terdapat di udara terdeposisi atau meluruh ke permukaan, dan menurunkan konsentrasinya di udara.

Berdasarkan situs pemantau udara, IQAir, Jakarta masih masuk empat besar kota dengan kualitas udara buruk di Indonesia, per Senin (21/8). Nilainya mencapai 158, masuk kategori tidak sehat (unhealthy) lantaran 14 kali di atas standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Stasiun DKI Lubang Buaya, Jakarta, DKI Jakarta, mencatat PM2.5 mencapai 107 alias Tak Sehat, meski masih 0 PM10.

PM10 dan PM2.5 adalah jenis polutan berdasarkan ukurannya. Umumnya berasal dari asap kendaraan bermotor dan industri.

Lebih lanjut Ardhasena mengungkapkan konsentrasi PM2.5 di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi yaitu transportasi, residensial, maupun dari sumber regional dari kawasan industri dekat dengan Jakarta.

“Emisi ini dalam kondisi tertentu yang dipengaruhi oleh parameter meteorologi dapat terakumulasi dan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi yang terukur pada alat monitoring pengukuran konsentrasi PM2.5,” kata dia.

Selain itu, kata dia, proses pergerakan polutan udara PM2.5 dipengaruhi oleh transport angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

Angin yang membawa PM2.5 dari sumber emisi, kata dia, dapat bergerak menuju lokasi lain sehingga menyebabkan terjadinya potensi peningkatan konsentrasi PM2.5.

BACA JUGA :   Gubernur Aceh Ikut Rakornas Secara Virtual dengan Presiden Jokowi Terkait Karhutla

Di samping itu pola angin lapisan permukaan memperlihatkan kondisi angin yang lambat, sehingga mengakibatkan PM2.5 tidak terdispersi ke lokasi lain.

“Akibatnya konsentrasi PM2.5 di lokasi tersebut tinggi,” kata dia.

Per Senin (28/8) pukul 06.00 WIB, kualitas udara Depok, Jabar, menjuarai tabel peringkat kota-kota dalam negeri dengan polusi udara terburuk dengan skor 178.

Karawang (Jabar) menyusul di peringkat kedua dengan 166; Cileungsir (Jabar) 161; Serang (Banten) 161, Pasarkemis (Jabar) 158. Sementara, Jakarta ada di peringkat 10 dengan skor 152.

Menurut BMKG, wilayah-wilayah ini sudah masuk periode musim kemarau.(*)

sumber: cnnindonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *